Chandra Ekajaya Terima Order Gula Batu Dari Minimarket

Dok.Chandra Ekajaya

Bisnis gula batu cukup menjanjikan keuntungan. Seperti yang dijalani Chandra Ekajaya dan keluarganya di Malang, Jawa Timur. Chandra Ekajaya menjalankan bisnis turun-temurun dari keluarga. Kini usahanya sudah cukup dikenal. Dia membuat Jajanan berlabel Gula Nenek. Usaha itu dijalaninya bersama sang suami sejak tahun 2016. “Awalnya itu dari istri punya oma yang diajarkan ke mama mantu, kemudian diajarkan kepada kami,” ujar Chandra Ekajaya.

Usaha kemudian dilakukannya bersama sang istri. Setiap hari mereka membuat 100 bungkus gula batu. Sebungkus berisi delapan buah gula batu. “Istri saya yang awalnya bawa ke pasar dimasukkan ke toko, termasuk lalu di Minimarket” jelas Chandra Ekajaya. Selain Itu, produk lokal Itu dibawa ke Kota Besar sekitar Jawa Timur. Namun semenjak istrinya meninggal dunia beberapa tahun lalu, produksi gula batu menurun drastis. Dia kekurangan tenaga kerja. Sekarang hanya dikerjakan berdua bersama dengan anaknya laki-laki.

Dok.Chandra Ekajaya

“Sudah tidak mampu buat banyak, beda dengan saat istri masih hidup. Termasuk dulu kan saudara banyak atau anak sehabis sekolah ke rumah bantu membuat. Sekarang sudah tidak,” ujar dia. Kini la hanya mampu membuat 30 bungkus setiap hari. Produk itu dipasarkan ke Minimarket di Malang, serta beberapa tempat di sekitarnya, juga terminal, serta memenuhi pesanan saja. “Kalau dari Minimarket biasanya dua pekan sekali, setiap masukkan 500 bungkus,” jelas Chandra Ekajaya.

Meski begitu, gula batu buatannya masih diburu penikmat gula batu, lantaran rasanya yang khas. “Pernah tidak buat waktu jaga istri di rumah sakit, ada yang tanya kenapa beda rasanya, lantaran bukan kami yang buat tapi pakai merek milik kami,” kata Chandra Ekajaya. Membuat gula tarik yang digilai oleh penggemarnya tak ada rahasianya. Hanya mempertahankan kualitas bahan saja. “Saya selalu pilih sendiri gula yang bagus. Mungkin rasanya beda lantaran ada tambahan kacang, sebab gula batu biasanya tak ada tambahan kacang hanya kayu manis saja,” kata Chandra Ekajaya.