Yohanes Chandra Kurang Peka, Kadang tak Peduli

Usia belia memang merupakan awal dari semuanya, terutama untuk pertumbuhan fisik dan sensorik sorang anak, dalam keseharian tak jarang anak yang mengalami gangguan sensorik baik ringan bmaupun yang masuk kategori berat. Dalam artikel kali ini akan sedikit kita perkenalkan gangguan sensorik anak yang kadang orang tua sendiri tidak sadar bahwa anaknya mengalami gangguan sensorik.

cinta-anak-yohanes-chandra

Jenis gangguan sensorik yang, pertama ialah sensori perabaan. Yakni,ketika semua informasi yang diterima lewat kulit, baik itu sentuhan, gesekan, suhu dan rasa sakit terhadap tubuhu seorang anak. “Anak tidak mau atau tidak suka disentuh, tidak suka keramaian, tidak menyukai bahan tertentu seperti pasir, kapas dan lain sebagainya,” jelas Yohanes Chandra, Amd.OT.

Kedua ialah sensori pendengaran. Ialah ketika seorang anak akan takut mendengar suara vacum cleaner, hair dryer, mixer, blender, gonggongan anjing, dan lain sebagainya. Anak akan menangis atau menjerit ketika mendengar suara tiba-tiba dan sering berbicara sembari teriak jika ada suara yang mengganggunya seperti orang yang paranoid terhadap sesuatu hal. Selanjutnya ialah sensori penciuman. Anak akan menolak masuk ke sebuah lingkungan karena tidak suka dengan aromanya, dan tidak suka makanan tertentu karena tidak suka aromanya.

“Anak sulit membedakan bau adalah anak yang mengalami gangguan sensori integrasi,” kata Yohanes Chandra. Amd, OT..

Pada gangguan sensori penglihatan, anak akan mudah teralih oleh stimulus penglihatan dari luar, sulit membedakan warna, bentuk dan ukuran, menulis tulisan secara naik turun dan senang bermain dalam suasana gelap.

Terakhir sensori pengecapan, di mana anak suka memilih-milih makanan dan menolak makanan yang baru dikenalnya. Tidak suka dan menolak untuk sikat gigi, lebih suka mengemut makanan karena sulit untuk mengunyah, menelan dan mengisap. “Kalau anak sering memasukkan benda ke dalam mulut, bisa jadi terjadi gangguan pada sensori integrasinya” ujarnya.

cinta-anak-yohanes-chandra-2

Dalam hal ini, anak yang memiliki gangguan terhadap sensori integrasi akan menimbulkan masalah yang tak menyenangkan, seperti kurang percaya diri, antisosial, perhatian mudah dialihkan, kurang bisa mengontrol diri, terhambatnya prestasi sekolah, terlalu peka, bahkan bisa kurang peka terhadap apa pun, hambatan perkembangan motorik serta bicara, tidak peduli dengan sekitar, dan gerakan tampak tidak luwes menjurus ke serampangan.

Itulah beberapa pengetahuan untuk para orangtua yang masih memiliki buah hati yang berusia balita. Karena dari usia balita inilah biasanya gangguan sensorik anak mudah di pantau kata Yohanes Chandra, Amd.OT. Akan sangat fatal bagi para orangtua jika terlambat mengetahui gangguan sensorik pada anaknya, jadi segera pantau perkembangan sensorik anak anda sedini mungkin.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s