Kumpulan Sajak Cinta Yohannes Eka Chandra

Baru-baru ini Yohanes Eka Chandra kerap menjadi objek utama pemberitaan. Kini, lelaki yang kerap disapa Yoyo ini baru saja melakukan pembedahan puisi berjudul “Bulan Kesembilan” karya Dian Arimbi. Buku kumpulan puisi tersebut, merupakan sebuah kumpulan sajak cinta yang tentu sangat anomali dalam perpuisian Indonesia.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Yohanes Eka Chandra, dimana puisi cinta kerap ditulis oleh para penyair laki-laki. Namun, justru kebalikannya, dimana Dian Arimbi melakukan semuanya dengan menerbitkan karya terbarunya berjudul Bulan Kesembilan yang ia angkat dari kisah percintaanya yang hanya berusia sembilan bulan.

Launching buku tersebut digelar di salah satu ruang publik di daerah Bandung, dimana acara tersebut dihadiri oleh Yohanes Eka Chandra yang datang sebagai seorang pembahas, dan Dian Arimbi sebagai penulis kumpulan sajak “Bulan Kesembilan”. Acara tersebut diselenggarakan oleh salah satu penerbit bernama Scitus Book.

Yohanes Eka Chandra pun mengungkapkan di sela diskusi launching Bulan Kesembilan karya Dian Arimbi ini merupakan kumpulan sajak cinta terbaik yang pernah dibaca sebelumnya.

“ Kumpulan Puisi berjudul Bulan Kesembilan karya Dian Arimbi ini begitu jernih dan berkesan, sejauh saya menelusuri dan membaca sajak-sajak karya penyair perempuan,” tutur Yohanes Eka Chandra.

Yohanes Eka Chandra juga menilai bahwa buku puisi karya Dian Arimbi ini merupakan sebuah kumpulan sajak cinta yang begitu elegan dan menarik untuk disimak oleh para pembaca.

Menurut Yohanes Eka kumpulan sajak “Bulan Kesembilan” karya Dian Arimbi banyak memuat nilai-nilai tentang kisah percintaan. Diantaranya puisi berjudul “Perpisahan”, “Bulan Kesembilan”, “Danau Penghabisan”, “Secangkir Pagi bersama Kekasih”, dan sebagainya.

“Imaji, pilihan kata, hingga ide-ide yang dituliskan dalam kumpulan puisi “Bulan Kesembilan” ini membawa angin segar dalam jagat perpuisian di Indonesia, ujar Yohanes Eka Chandra.

“Dian, merupakan perempuan cerdas yang memiliki konsentrasi di bidang filsafat kebahagiaan, jadi nilai filosofis dalam puisi-puisinya tentu menjadi tawaran dalam buku-buku tersebut.” tambah Yohanes Eka Chandra.

Yohanes Eka Chandra juga menjelaskan bahwa masa depan perpuisian modern membutuhkan sosok penyair perempuan seperti Dian Arimbi karena ia memiliki visi dan gagasan yang menarik, ujar Yohanes Eka Chandra sembari menutup pembicaraan dalam diskusi tersebut

Dian Arimbi merupakan penyair muda perempuan kelahiran Pemalang pada 19 Juli 1989. Sebelumnya puisi-puisinya juga pernah dipublikasikan di beberapa media cetak maupun non cetak. Puisi-puisinya juga pernah dipublikasikan dalam sebuah buku antologi bersama “Muara Cinta” yang melibatkan penyair Yohanes Eka Chandra, Delita Amarina, dan Sadian Hidayat.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s